ASRI-

Hotlin Ompusunggu, Pendiri Yayasan Alam Sehat Lestari: Menggandeng Warga Menambal Hutan Ompong

”Oaaaaakkkkk ….” Itu suara pekik halus Hotlin Ompusunggu, diakhiri senyum beberapa saat.  Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) Kalimantan Barat menjadi tempat kali pertama Hotlin setiap pagi terhibur oleh suara owa-owa itu.

”Kalau pagi mereka nyanyi dengan bunyi suara itu, untuk cari makan atau menarik perhatian lawan jenis, saya baru pertama kali dengar mereka di TNGP,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatra Utara itu, menirukan suara owa-owa, yang oleh masyarakat lokal disebut kelempiau.

Owa-owa menjadi salah satu penghuni TNGP selain orang utan. Menurut Kepala Balai TNGP Dadang Wardhana, ada 131 jenis mamalia, 236 jenis burung, dan 3.500-4.000 jenis vegetasi berkayu di TNGP yang menurut SK Menhut Nomor 4191 Tahun 2014 memiliki luas 108 ribu hektare.

Hal lain yang bisa membuat Hotlin terhibur adalah ketika ada warga yang menceritakan kehidupannya telah berubah setelah mengikuti program Yayasan Asri. ”Mereka merasa bangga dengan hidupnya, tak lagi punya mata pencarian yang haram,” ujar pendiri sekaligus pembina Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) ini kepada Republika, Selasa (15/3).

Warga tak lagi melakukan pembalakan liar, harkat, dan martabatnya menjadi tinggi. ”Saya terkesan dampaknya ke sana, karena kebutuhan paling dasar ialah bermartabat,”ujar Hotlin.

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya memuji langkah Hotlin dan kawan-kawan. ”Mereka berusaha untuk menghentikan kemiskinan, kesehatan yang buruk, dan deforestasi serta mengubah penebang lokal menjadi sahabat hutan,” ujar Siti Nurbaya.

Ia mengetahui, terobosan nyata yang dilakukan Hotlin berangkat dari kondisi kemiskinan di masyarakat, minimnya akses kesehatan, dan kerusakan lingkungan (deforestasi akibat penebangan liar) di kawasan TNGP. “Berdasarkan laporan, Yayasan Asri saat ini akan mendirikan rumah sakit di Sukadana sebagai perluasan dari klinik yang sudah ada agar dapat lebih banyak melayani kesehatan masyarakat yang berkualitas. Kita harus dukung,” katanya.

Sebagai dokter gigi, Hotlin yang berasal dari Sumatra Utara ini tergolong istimewa. Sejak 2007, ia bersama Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) menambal “gigi” hutan yang ompong akibat pembalakan liar. Ia hadir menawarkan pemberdayaan masyarakat melalui penggabungan pelayanan kesehatan dengan konservasi. Pendiri Yayasan Asri semua perempuan: Hotlin, Kinari Webb MD, dan Antonia Gorog PhD.

”Perjuangan oleh perempuan akan berdampak pada contoh di keluarga, lingkungan kerja, hingga ke lingkup yang lebih luas,” ujar Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Hadi Daryanto mengomentari kiprah Hotlin di sekitar TNGP. Kehadiran Hotlin, kata Hadi, telah memunculkan perubahan di kawasan sekitar TNGP berupa semangat kerja bersama laki-laki dan perempuan demi kelestarian lingkungan.

Memfasilitasi kelompok tani organik, Yayasan Asri telah mendorong pembalak beralih pekerjaan. Hotlin mendapati kenyataan bahwa 99 persen warga di sekitar TNGP menginginkan perubahan kehidupan. Bahkan, di antara pembalak itu kini ada yang aktif bersama Yayasan Asri menghijaukan kembali hutan yang gundul.

Banyak pula yang aktif di kelompok tani organik. Per Desember 2015, telah ada 126 kelompok tani. ”Sebelas kelompok tani telah mampu menghasilkan pupuk organik dan pestisida organik,” ungkap Hotlin.

Ia lantas menguraikan sejumlah kunci Yayasan Asri yang membuat masyarakat sekitar TNGP berubah. Alasan masyarakat menebang pohon ternyata untuk kebutuhan ekonomi dan pelayanan kesehatan yang berbiaya tinggi. Untuk memutus rantai itu, Yayasan Asri pun mendirikan klinik terpadu dan lengkap. Bibit tanaman menjadi salah satu alat bayar, selain kerajinan, kotoran ternak, dan lainnya.

Program pemberdayaan, di antaranya pertanian organik dan kambing untuk janda, juga menjadi salah satu kunci keberhasilan. Keduanya merupakan bagian dari program unggulan. Kedua program itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber dana pengganti praktik penebangan pohon.

Pertumbuhan pertanian organik terus terjadi. Kurun 2013-2015 terjadi peningkatan 18 persen pengguna teknik tanam pangan secara organik. Penghasilan pun meningkat sehingga mereka bisa menambah jumlah ternak mereka. ”Jumlah sapi yang dimiliki mitra tani meningkat 40 persen dalam kurun dua tahun,” ungkap Hotlin.

Program kambing untuk janda juga telah melibatkan para janda ikut menjaga hutan. Dengan memelihara kambing, setidaknya mereka memiliki tabungan harta sehingga bisa mencegah anak laki-lakinya menjarah hutan atau bisa mencegah bekerja di perusahaan yang terkait dengan penjarahan hutan, semisal penggergajian kayu.

Terlibat dalam kegiatan konservasi berarti melebur setara dalam segala keseharian masyarakat selama bertahun-tahun. Kemampuan adaptasi menjadi bekal utama agar pesan konservasi dengan model pelayanan kesehatan sampai di masyarakat.

Pada awal pembentukan Yayasan Asri, Hotlin hanya bekerja dengan enam orang. Kini sudah ada 45 orang. Sebagian besar masyarakat lokal. Sepuluh orang di tim leader berasal dari luar Kalimantan.

Hamisah termasuk warga lokal yang bergabung pada tahun-tahun awal. Kader Posyandu Dusun Sidorejo, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, ini mendaftar sebagai pengawas minum obat untuk pasien TBC.

Di dusunnya, ia juga menjadi ketua kelompok tani perempuan yang mendapat pelatihan pertanian organik dari Yayasan Asri. ”Orang dari luar daerah saja mau berbuat sesuatu untuk warga di sini, masa saya diam saja?” ujar Hamisah tentang alasannya bersedia membantu Asri melakukan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat pun bersedia bergabung menjadi sahabat hutan. Menjadi sahabat hutan telah memunculkan kesadaran betapa pentingnya menjaga hutan sehingga masyarakat berani menghalangi orang-orang yang akan membalak hutan. Pemberian status zonasi setiap dusun juga memunculkan kebersamaan untuk menjadikan status dusun mereka menjadi bebas pembalakan sehingga mendapat diskon pengobatan mencapai 70 persen. Ada 23 sahabat hutan di 23 dusun.

Hotlin, bagi konsultan komunikasi ekonomi hijau Wimar Witoelar, merupakan sosok yang banyak berjasa meluruskan praktik keliru di pedalaman. Konservasi berbasis kemitraan dengan masyarakat setempat yang dijalankan Hotlin bersama Yayasan Asri-nya, menurut Wimar, merupakan jalan yang efektif untuk memulihkan hutan.

Menurut Kepala Balai TNGP Dadang Wardhana, ada sekitar 3.038 hektare lahan TNGP yang harus direhabilitasi pada kurun 2010-2014. Lahan itu rusak akibat pembalakan liar periode 1980-2007.

Yayasan Asri telah membantu merehabilitasi 17 hektare lahan TNGP di Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, dan enam hektare di Dusun Begasing, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Bibit yang ditanam diperoleh dari warga yang berobat di Klinik Asri.

Klinik menjadi salah satu media penghubung Hotlin dengan warga. ”Di klinik tak ada dokter yang berpakaian seragam dokter yang serbaputih,” ujar Hotlin. Mereka memakai batik yang membuat pasien merasa sedang berada di rumah sendiri.

Upaya Hotlin memadukan pelayanan kesehatan dengan usaha konservasi merupakan hal baru di Indonesia. Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead memuji langkah Hotlin dalam usahanya melakukan konservasi hutan secara lintas profesi masyarakat sipil, berbasis kemitraan dengan masyarakat. ”Upaya konservasi harus menjadi gerakan sosial agar bisa berjalan efektif,” kata pria kelahiran Medan yang juga mantan direktur eksekutif WWF Indonesia itu.

Negara membutuhkan tokoh-tokoh masyarakat sebagai ujung tombak karena merekalah yang paling tahu situasi dan konteks di tapak. Menurut Nazir, aksi nyata masyarakat sipil seperti yang dilakukan Hotlin akan lebih mudah menarik simpati dan menginspirasi anggota masyarakat lainnya untuk ikut bergerak.

Hotlin, bagi Wimar, menjadi contoh dari masyarakat sipil yang sudah banyak bergerak di bidang konservasi secara mandiri. ”Ia sangat layak menjadi salah satu tokoh perubahan, apalagi iklim politik saat ini menampakkan diri terhadap dukungan atas agenda konservasi,” ujar Wimar.

Sejak setahun terakhir, menurut Wimar, pemerintah menegaskan dukungannya dalam bentuk langkah nyata dalam konservasi. ”Karena lingkungan yang sehat berdampak pada pengelolaan ekonomi berkelanjutan, lingkungan rusak sudah mulai terasa, ini merugikan secara ekonomi dan politik,” tutur Wimar.

Kepala Balai TNGP Dadang Wardhana mengapresiasi program Yayasan Asri yang dipelopori Hotlin. Program Asri, menurut Dadang, sangat membantu konservasi TNGP karena insentif pelayanan kesehatan yang diberikan Asri telah mendorong masyarakat tidak merusak hutan.

Kini Hotlin tengah berkonsentrasi untuk pengembangan program di wilayah lain. Saat ini ia merasa Yayasan Asri sudah banyak melirik dan dilirik oleh lembaga konservasi lain. Makanya, mereka sedang mencari titik kekuatan yang akan dikolaborasikan dengan tempat lain. Saat ini, lanjut Hotlin, tim yayasan sedang melakukan survei ke sejumlah wilayah, di antaranya ke Raja Ampat dan dua lokasi lainnya di Kalimantan Tengah. n ed: muhammad fakhruddin

***
Biodata

Nama lengkap: Drg Hotlin Judika Romanna Ompusunggu Ce.HE
Tanggal lahir: Siguri-guri, Sumatra Utara, 19 Juli 1974
Pendidikan:
1. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatra Utara
2. Redcliffe Higher niversity of Gloucecsctershire, Inggris
Hobi: Travelling ke tempat yang kaya budaya, sejarah, dan alam, diskusi hal baru dan inovatif, menonton film, hang out dengan teman dan keluarga
Penghargaan: Whitley Award (2011) untuk upaya konservasi dipadukan dengan pelayanan kesehatan

sumber : Republika

asri.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *