ASRI-

Menjaga Hutan dengan Diskon Pengobatan (1)

Maraknya pembalakan liar membuat 3.038 hektare di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) Kalimantan Barat harus direhabilitasi pada kurun 2010-2014. Kondisi ekonomi yang buruk mendorong warga di sekitar TNGP mengandalkan hutan sebagai sumber penghasilan. Untuk bisa membayar biaya rumah sakit, kayu hutan menjadi sumber dana. Maka, memadukan konservasi lingkungan dengan insentif pelayanan kesehatan membuat pembalakan liar berkurang drastis di TNGP. Wartawan Republika, Priyantono Oemar, menurunkan hasil liputannya dalam enam tulisan.
***
Ketika ada satu pembalak ditangkap, hutan di Dusun Begasing pun sepi pembalakan. “Untuk beberapa bulan kemudian, Begasing mendapat status zona hijau karena tak ada kegiatan pembalakan,” ujar Koordinator Monitoring Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) Agus Supianto, Rabu (3/2).

Sepi pembalakan, menurut Sahabat Hutan Begasing, Jono Karno, tak berlangsung lama. Ketika polisi hutan mulai mengurangi patroli, pembalakan muncul lagi. Permintaan kayu—termasuk permintaan dari anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang perlu membangun kamp pada 2015—muncul lagi. “Tapi permintaannya tak banyak, hanya seperlunya saja,” ujar Jono, Ahad (7/2).

Kondisi ini dinilai oleh salah satu pendiri sekaligus pembina Yayasan Asri, Kinari Webb MD, sebagai hal yang tidak bagus. “Semoga mereka sadar juga,” ujar dokter yang oleh ayahnya diberi nama makhluk setengah dewa penjaga pohon kalpataru dalam mitologi India itu.

Meski begitu, Klinik Asri tetap melayani warga Gafatar yang berobat ke klinik. Ketika mereka hendak dipulangkan, Klinik Asri juga membantu mereka. “Kita turun melakukan aksi kemanusiaan atas inisiatif Hamisah, kepala Dusun Sidorejo, yang dusunnya juga ditempati warga Gafatar,” ujar Direktur Eksekutif Asri, drg Monica Ruth Nirmala, Kamis (4/2).

Munculnya kembali pembalakan membuat Dusun Begasing turun status dari hijau menjadi kuning karena ada dua pembalak. “Dusun zona hijau mendapat diskon pengobatan 70 persen, zona kuning mendapat diskon 50 persen,” ujar drg Hotlin Ompusunggu, pendiri sekaligus pembina Yayasan Asri, Selasa (26/1).

Kini, kampung Jono berstatus merah lagi karena jumlah pembalak bertambah menjadi empat. Status merah membuat warga Begasing hanya bisa menikmati diskon pengobatan 30 persen.

Di Begasing, Asri mengelola enam hektare lahan reboisasi. Menurut Manager Konservasi Asri Erica Pohnan, tiadanya sumber kayu legal membuat warga Begasing masih mengambil kayu dari hutan. Begasing yang berada di Desa Sedahan Jaya, Kecataman Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, itu berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) Kalimantan Barat.

Penetapan status terhadap dusun-dusun menjadi strategi Yayasan Asri untuk mendorong masyarakat ikut mengurangi pembalakan. Hotlin melihat ada kaitan antara kerusakan hutan dan kesehatan. Orang menebang hutan untuk bisa membayar biaya pengobatan.

Tetapi, kesejahteraan tak segera datang kendati hutan telah gundul. Pada 2007, kondisi kesehatan warga di sekitar TNGP sangat memprihatinkan. Kondisi kerusakan hutan pun begitu.

“Ada sekitar 3.038 hektare yang harus direhabilitasi pada 2010 hingga 2014,” ujar Kepala Balai TNGP Dadang Wardhana, Ahad (7/2). Luas TNGP menurut SK Menhut Nomor 4.191 Tahun 2014 mencapai 108 ribu hektare.

Lahan yang harus direhabilitasi itu rusak akibat aksi pembalakan liar periode 1980-2007. Menurut Dadang, ini periode paling parah. Pada 2007, kondisi berubah setelah Mabes Polri melakukan operasi pengamanan sehingga pembalakan liar turun secara drastis. “Banyak yang ditangkap, termasuk oknum pejabat di Kepolisian Ketapang,” jelas Dadang.

Setelah itu, bukan berarti pembalakan liar berhenti total. Perusakan hutan terus terjadi meski tak separah sebelumnya. Tetapi, kesejahteraan masyarakat tetap tak berubah.

Kerusakan hutan di dusunnya semula tak pernah dihiraukan Syarifudin (26 tahun). Maka, ketika ada yang membalak hutan, ia pun tak peduli. “Prinsipnya, kamu tak ganggu periuk saya, saya juga tak ganggu periuk kamu,” ujar petani di Dusun Mentubang, Desa Harapan Mulya, itu.

Ternyata, banyak juga yang bersikap seperti dirinya: diam, membiarkan orang lain merambah hutan. Akhirnya, pada suatu masa, ia merasakan kerusakan hutan karena ulah orang-orang tertentu ternyata berdampak kepada banyak orang. Status dusunnya yang merah membat semua warga di dusunnya tak bisa menikmati diskon pengobatan 70 persen.

“Kita berikan insentif kesehatan, diskon yang tinggi jika ikut melindungi hutan,” ujar Kinari, dokter lulusan Yale University of Medicine yang mengambil spesialisasi family medicine di Contra Costa Regional Medical Center, Martinez, Kalifornia, Amerika Serikat, itu.

Selama kurun 2007-2015, Klinik Asri telah melayani hampir 25 ribu pasien. “Total kunjungan hampir 60 ribu kali hingga tahun 2015,” jelas Kepala Klinik Asri dr Nurmilia Afriliani.

Bibit pohon menjadi salah satu alat bayar pengobatan. Untuk menyiapkan bibit, warga mendapat polybag dari Yayasan Asri. Bibit pohon ulin nilainya paling tinggi, yaitu Rp 20 ribu per bibit. Bibit meranti bernilai Rp 15 ribu. Bibit petai Rp 10 ribu. Ada 26 jenis pohon yang disetujui TNGP, yang bibitnya bisa dipakai untuk berobat kemudian ditanam di kawasan TNGP.

Saat ini ada 76 dusun yang bekerja sama dengan Yayasan Asri. Menurut Kepala Balai TNGP Dadang Wardhana, ada 23 desa yang berbatasan langsung dengan TNGP: 16 desa di Kabupaten Kayong Utara dan 7 desa di Kabupaten Ketapang.

Sebanyak 41 dusun berstatus biru lantaran dusun ini tidak berbatasan langsung dengan hutan. Dusun yang berstatus biru mendapat diskon biaya pengobatan 50 persen. Bisa berubah status menjadi merah jika ada warga yang menjadi pembalak, bekerja di penggergajian kayu, atau memiliki usaha penggergajian kayu.

Terdapat 35 dusun yang berbatasan langsung dengan hutan, yang rutin dipantau Yayasan Asri. Ada 12 dusun yang sudah berstatus hijau, 15 dusun berstatus kuning. “Tinggal delapan dusun yang berstatus merah,” jelas Agus Supianto, koordinator Monitoring Asri.

Di dokumen medis pasien dicantumkan status zona dusun masing-masing. “Kami segera tahu besaran diskon setiap ada pasien datang,” ujar Supatma, staf pendaftaran Klinik Asri.

Pengawasan terhadap dusun dilakukan tiga bulan sekali. Sahabat hutan yang ada di masing-masing dusun ikut membantu pengawasan. Hasil pengawasan akan menentukan status dusun untuk tiga bulan berikutnya.

Maka, ketika Syarifudin ditawari menjadi sahabat hutan pada 2013 dan mendapat penjelasan pentingnya menjaga hutan, ia menerimanya. Ia kemudian mendapat pelatihan, termasuk pelatihan bertani organik. Ketika sosialisasi, ia mendapati orang-orang yang mendiamkan pembalakan sejatinya juga mengkhawatirkan kondisi hutan.

Aktif juga di kelompok tani, tugas Syarifudin adalah mengajak warga lain bergabung. Jika mereka aktif di pertanian, kata Syarifudin, kegiatan tebang kayu menjadi berkurang. Ada yang bersedia bergabung, tapi ada pula yang menganggap buang-buang waktu. Hasil belum pasti, tapi jika menebang kayu di hutan sudah jelas hasilnya.

Hotlin bercerita, ada warga yang butuh tiga tahun untuk memutuskan bergabung di pertanian. Ia ingin melihat bukti terlebih dulu. Bukti itu, kebun-kebun organik bisa panen tujuh kali. Biasanya cuma panen tiga kali.

Tahun pertama menjadi masa-masa sulit bagi Syarifudin sebagai sahabat hutan. Ada enam pembalak di dusunnya sehingga membuat dusunnya berstatus zona merah. Pada tahun kedua, ketika sudah dekat dengan orang-orang yang ia sasar, ia bisa mengajak tiga pembalak bergabung di kelompok tani. “Tinggal satu logger yang belum berhenti,” kata Syarifudin.

Pada tahun ketiga ia menjadi sahabat hutan (pada 2015), dua pembalak berhenti. Kini mereka bekerja di proyek Rumah Sakit Asri. Maka, status dusun Syarifudin meningkat ke zona kuning dengan diskon pengobatan 50 persen.

Satu pembalak di dusunnya itu kini harus diam-diam menebang kayu. “Malu-malu,” kata Syarifudin.

Sumber Republika

asri.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *