ASRI-

Puisi: Membalut Yang Tersisa

Diawal terciptanya dunia semuanya sangatlah sempurna.

Dalam pemenuhan ciptaannya tak satupun terlupakan, karya tangan kuasa Sang Pencipta.

Daratan menghijau, lautan membiru, satwa berkicau, ombak menderu, manusia bersuka ria.

Menyimpan tak sedikit kekayaan, tak kurang kenyamanan, bag surga bagi yang empunya.

Titipan paling berharga dari eyang Adam bagi anak cucu kita dan anak cucu mereka.

Hari berganti, waktu berjalan, tak terasa berubah begitu cepat oleh tragedi kemanusiaan, kebenciaan, kepentingan sesaat, kekuasaan uang dan harta

Jutaan hektar hutan telah terbabat, hewan – hewan disikat, perbukitan dikerat, bumi dilobang di sana-sini meninggalkan luka ternganga.

Lautan, sungai, danau, tak luput tercemar limbah, sampah dan pestisida.

Di pegunungan telah terjadi erosi, di pantai terjadi abrasi, di saat kemara tiba si jago merah berpesta ria.

Di saat penghujan datang banjir menghilir membuat getir menerjang yang menghadang, menyapu rata semua yang ada.

Saudara – saudara lihat, dengar dan rasakan, bumi ini sudah tidak enak untuk didiami, sudah tidak nyaman untuk dihuni, sewaktu – waktu bencana datang menerpa.

Hari Hijau media sempurna menunjukan pada dunia kecil tapi berharga.

Menghijau yang gersang, mengganti yang hilang, menyelamatkan yang hampir binasa.

Yayasan ASRI, tugasmu sangat mulia, membantu sesama yang kurang berdaya, mengangkat derajat yang tak beruntung, penyeimbang alam dan manusia.

ASRI sebuah baca penuh makna yang diurai dalam kata Alam Sehat Lestari.

Sarana pembalut yang masih tersisa.

Sukadana, 16 Mei 2018

Oleh: Yohanes Terang

Admin ASRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *