ASRI-
Field Course ke Cabang Panti

Sepenggal Petualang di Taman Nasional Gunung Palung

Berikut adalah cerita dari M Zulkarnaen (Pengajar Pendidikan Kesehatan Planetari) saat mewakili ASRI dalam kegiatan observasi di Cabang Panti yang diadakan oleh Taman Nasional Gunung Palung: ,

Senyuman sinar matahari seakan memberikan sebuah harapan pasti akan perjalanan hidup bersejarah di Desa Sejahtera, Dusun Tanjung Gunung. Desa yang merupakan lokasi titik pendakian puncak Gunung Palung – salah satu warisan keanekaragaman hayati dunia. Disana terlihat banyak para pendaki yang bersiap melakukan perjalanan setapak demi setapak menuju puncak gunung yang berada di daerah Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sehari sebelum pendakian, 14 orang pendaki dari berbagai NGO – dua diantaranya adalah dari Yayasan ASRI dijamu makan malam sebagai bentuk malam keakraban. Bisa dibilang ini merupakan kali pertamanya bagi para pendaki bertemu dan mendaki bersama di Taman Nasional (TN) Gunung Palung.

Field Course ke Cabang Panti - Taman Nasional Gunung Palung
Field Course ke Cabang Panti – Taman Nasional Gunung Palung

Dataran tinggi dan alam liar TN Gunung Palung memang dikenal sebagai daerah pegunungan yang menjadi primadona di kalangan para pendaki, pecinta alam dan petualang serta para peneliti dari berbagai mancanegara. Puncak Gunung Palung sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung lainnya yang ada di Indonesia. Pendaki bisa menyaksikan bagaimana Kabupaten Kayong Utara diapit oleh deretan pegunungan seperti, Peramas, Lubuk Baji dan Satu.

Hal menarik lainnya adalah panorama alam liar sebagai habitat asli orangutan. Jalur Tanjung Gunung merupakan jalur darat yang cukup menantang dengan kontur semak belukar hampir tanpa jeda. Rutenya menawarkan paduan keindahan suara binatang, pemandangan sarang Orangutan, pohon kayu asli Kalimantan seperti belian dan meranti dengan ukuran yang luar biasa besar. Bahkan kami bertemu salah satu anak orangutan bernama “Baby Bayas”. Nama ini disematkan karena bayi tersebut lahir di hutan yang bernama Hutan Bayas.

Bisanya lama pendakian bisa menghabiskan waktu sekitar 5 – 6 jam perjalanan menuju pusat penelitian Cabang Panti (tetapi belum sampai ke puncak ya guys, hehe). Sebab untuk sampai ke puncak dari pusat penelitian membutuhkan waktu sekitar 5 – 6 jam lagi. Letih dan peluh selama perjalanan seperti terbayar dengan segala keindahan pemandangan.

Salah satu cara memanjakan mata setelah kesibukan bekerja menatap komputer berhari-hari adalah memandang indahnya dunia ciptaan Sang Kuasa. Kali ini pilihan saya dan beberapa teman adalah memandang keindahan hamparan luas gunung-gunung, pohon-pohon dan rerumputan yang menyegarkan mata. Tibalah waktunya untuk mendaki puncak gunung, setelah beberapa aktivitas pembelajaran yang dilakukan di pusat penelitian cabang Panti selama beberapa hari. Seperti belajar teknik survey hewan, mengenal keanekaragaman hayati hutan hujan tropis maupun bagaimana cara bersahabat serta menikmati panorama dan keunikan Alam.

Field Course ke Cabang Panti

Selama 5 – 6 jam perjalanan dari Pusat penelitian akhirnya para pendaki tiba di puncaknya. Satu jam pertama mendaki saja sudah cukup mengesankan dengan pemandangan sekitar yang merupakan perpaduan dari nanyanyi suara hewan. Lalu ditambah dengan kabut hutan dipagi hari. Pendakian gunung dimulai pukul setengah enam pagi dan jika ingin sampai ke puncak dan kembali sebelum malam tiba maka harus berangkat pagi-pagi sekali.

Tracking pendakiannya cukup seru, yaitu saat saling menolong teman, saling bergandengan tangan maupun merangkul yang sempat terjatuh.

“Mendaki gunung memberikan pengalaman untuk kita sadar bahwa jalan yang selalu kita tempuh dalam kehidupan tidak akan selalu sesuai dengan apa yang kita impikan.”

Setelah tiba di puncak, segala kelelahan terbayarkan dan pastinya mulai lapar. Saya dan teman-teman membawa beberapa bekal makanan, minuman dan beberapa snack. Pastikan membawa makanan karena tidak ada warung atau toko di puncak gunung, hehehe. Oh ya, jangan lupa untuk memastikan baterai kamera gadget atau power bank kamu full sebelum mendaki karena di puncak juga tidak tersedia colokan untuk mengisi ulang baterai, haha.

“Mendaki gunung menyadarkan kita untuk menghargai keagungan yang Maha Kuasa.”

Admin ASRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *