First Time Joining Asian Waterbird Census, Got a Wild Orangutan Sight as Bonus!
Asian Waterbird Census (AWC) merupakan kegiatan kolaborasi yang dilakukan secara tahunan yang bersifat sukarela. Tahun ini, kegiatan AWC dilaksanakan pada bulan Februari 2025, sekaligus memperingati World Wetlands Days atau Hari Lahan Basah Sedunia. Kali ini, AWC dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), Yayasan Palung (YP), dan Flora Fauna Indonesia (FFI). Kegiatan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 10-14 Februari 2025 di beberapa stasiun pengamatan, seperti di Perupuk 3 stasiun, Sedahan 1 stasiun, Pasir Mayang 1 stasiun. AWC ini dilaksanakan sebagai upaya dalam konservasi burung air serta pemantauan habitat lahan basah.
Asian Waterbird Census penting dilaksanakan sebagai upaya pengumpulan informasi tahunan dan pembaharuan data terkait estimasi populasi burung air yang berada di lahan basah. Selain itu, hasil dari sensus ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan konservasi yang strategis dan efektif oleh pihak yang berwenang. Selanjutnya, hasil estimasi populasi burung air yang tersensus di lahan basah dapat menjadi indikator kualitas suatu habitat. Apabila semakin baik kualitas lahan basah maka semakin banyak burung yang dijumpai. Hal ini dikarenakan kualitas lahan basah yang baik dapat menyediakan sumber daya penting bagi burung air, seperti pakan, air, tempat berlindung, serta tempat bersarang.
Read also: Bibit Harapan Untuk Hutan dari Sukardi
Kegiatan AWC tahun ini merupakan pengalaman pertama saya untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Pada hari pertama, semua orang yang berpartisipasi berkumpul di Semanjak, sebuah daerah di Desa Benawai Agung. Dari Semanjak, kami menuju lokasi pengamatan di daerah Perupuk, area reforestasi ASRI dan BTNGP di dalam kawasan Taman nasional Gunung Palung. Dari Semanjak, kami menaiki speed boat dan sepanjang perjalanan, kami bisa mengamati beberapa jenis burung dan beruntungnya kami juga menjumpai orangutan liar. Perjumpaan dengan orangutan secara langsung adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Orangutan di kawasan ini jarang terlihat dan saya beruntung bisa melihat satwa endemik ini secara langsung walaupun tidak bisa mendapatkan fotonya. Selanjutnya, sesampainya di camp Perupuk kami melakukan briefing untuk kegiatan yang akan dilaksanakan.
Pengamatan dalam sehari dilaksanakan 2x yakni di pagi hari (06.00-09.00 WIB) dan sore hari (15.00-18.00 WIB). Personil yang ikut serta akan dibagi menjadi 3 tim karena terdapat 3 titik yang akan menjadi lokasi pengamatan atau pengambilan data. Saya masuk ke tim 1 dengan 4 anggota yakni Pak Bambang dan Leo yang berasal dari BTNGP, serta saya dan Hen dari ASRI. Sistem pengamatan dilaksanakan secara rolling, jadi apabila tim 1 pada pagi hari melakukan pengamatan di titik 1, maka sore hari akan melaksanakan pengamatan di titik ke-2. Pengambilan data burung dilaksanakan secara menyeluruh, artinya semua burung yang teramati walaupun bukan termasuk burung air akan tetap dicatat. Kami harus berangkat ke titik atau stasiun pengamatan ketika burung sedang aktif dalam mencari makan, dll. Oleh karena itu, pengamatan dilaksanakan pagi dan sore hari. Saya sangat suka pengamatan di pagi hari karena udaranya sangat segar, banyak burung yang bisa diamati, dan panas mataharinya belum terlalu menyengat.
Rekapitulasi data dan identifikasi burung yang didapatkan di pagi dan sore hari dilakukan pada malam hari. Kami menggunakan buku maupun aplikasi Merlin Bird ID by Cornell Lab dan eBird. Aplikasi tersebut menyajikan gambar maupun suara dari suatu spesies. Penggunaan aplikasi atau tools tersebut sangat memudahkan dalam identifikasi karena berisi gambar dan suara burungnya.
Selama kegiatan berlangsung, saya juga ditugaskan untuk ikut mendokumentasikan kegiatan. Hal ini menjadi pengalaman pertama saya menggunakan kamera untuk dokumentasi. Terdapat beberapa jenis burung yang bisa saya foto, seperti kirik-kirik laut (Merops philippinus), elang tikus (Elanus caeruleus), elang ikan kepala abu (Ichthyophaga ichthyaetus), cangak merah (Ardea purpurea), dan sebagainya. Salah satu burung yang saya sukai adalah kirik-kirik laut (Merops philippinus) karena dari warna bulunya yang sangat indah.
Pengamatan atau pengambilan data burung air kali ini sudah di akhir bulan migrasi, sehingga data yang didapatkan lebih banyak burung-burung yang bukan termasuk burung air. Namun, berikut daftar burung air yang didapatkan di kelima stasiun, cangak merah (Ardea purpurea), belibis polos (Dendrocygna javanica), kareo padi (Amaurornis phoenicurus), trinil semak (Tringa glareola), gajahan penggala (Numenius phaeopus), dan lain sebagainya. Menurut saya, burung dara laut tengkuk hitam (Sterna sumatrana) menjadi burung yang paling langka dalam pengamatan kali ini. Hal ini karena mereka termasuk burung migran yang akan melakukan migrasi ke area yang lebih hangat saat belahan bumi utara mengalami musim dingin. Selain itu, burung ini tidak dijumpai pada AWC tahun 2024.
Dari kegiatan ini, saya belajar banyak hal seperti cara identifikasi burung melalui suaranya (call & sing), cara terbang, serta penggunaan kamera dalam memotret satwa liar. Mengabadikan satwa liar menggunakan kamera sangat challenging bagi saya. Beberapa spesies ukurannya kecil dan ada juga yang pergerakannya lincah sehingga diperlukan ketelatenan dan kesabaran dalam mengambil foto. Selain itu, saya juga lebih menyadari bahwa konservasi lahan basah sangat mendukung konservasi ekosistem termasuk burung-burung yang telah kami amati. Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, demi terjaganya alam sekitar dan dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat.




