ASRI-
boat we use to cross the river

Yayasan ASRI Mengadakan Pengobatan Keliling ke Daerah Sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Untuk kedua kalinya Yayasan ASRI melakukan pengobatan keliling dan diskusi pertanian berkelanjutan di lokasi pertama replikasi model ASRI, yaitu di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TN BBBR) pada bulan September lalu.

Tim medis yang diturunkan ialah Dr. Marisa dan Siska (apoteker). Sedangkan dari tim konservasi ada Mahardika (manajer konservasi) dan Jilli (koordinator pertanian berkelanjutan). Perjalanan pergi menuju lokasi pengobatan keliling memakan waktu dua hari yaitu dari tanggal 21 – 22 September. Perjalanan dimulai dari Sukadana menuju Ketapang, lalu dilanjutkan ke Pontianak menggunakan pesawat, transit di Jakarta, kemudian terbang (lagi) menuju Sintang. Dari bandara Sintang mereka menuju ke Nanga Pinoh menggunakan mobil selama 1,5 jam. Dari Nanga Pinoh menuju Kecamatan Menukung sejauh kurang lebih 2 jam perjalanan. Dan setelah itu tim lanjut ke Desa dari Menukung. Untuk sampai di Dusun Bloyang Juoi membutuhkan waktu selama kurang lebih 2 jam (bisa jauh lebih lama jika cuaca hujan).

Pengobatan Keliling ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Menggunakan Perahu

Untuk mencapai lokasi pengobatan keliling, tim asri harus menggunakan perahu
Untuk mencapai lokasi pengobatan keliling, tim asri harus menggunakan perahu | Photo: Mahardika Putra Purba

Pengobatan Keliling dimulai pada hari Minggu, 23 Sepetmber sampai Rabu, 26 September. Terhitung total hari yang digunakan untuk perjalanan ke TN BBBR adalah delapan hari. Lokasinya berada di empat dusun, yaitu Dusun Bloyang Joui, Dusun Mawang Satu, Dusun Nusa Poring dan Dusun Mengkilau. Masyarakat setempat sangat antusias dan bersemangat menyambut pelayanan kesehatan dari ASRI. Dibantu oleh dua bidan yang telah berada di lokasi dan sebelumnya sudah dilatih di Klinik ASRI (Bidan Dewi dan Bidan Vini), sehingga pengobatan keliling dapat berjalan lancar dan kondusif.

Jumlah pasien yang berobat selama empat hari berjumlah 84 orang yang berasal dari berbagai macam usia. Kondisi kesehatan masyarakat disana sangat memprihatinkan. Banyak pasien yang sudah sakit berbulan – bulan belum pernah memeriksakan dirinya ke dokter dan minum obat sama sekali. Hal ini disebabkan jauh dan sulitnya mengakses fasilitas kesehatan. Penyakit yang umum ditemukan pada saat pengobatan keliling diantaranya penyakit kulit, nyeri punggung, gastritis, katarak dan batuk kronis.

Pasien sedang konsultasikan kesehatannya ke Dr. Marisa dan bidan Vini
Pasien sedang konsultasikan kesehatannya ke Dr. Marisa dan Bidan Vini | Photo: Mahardika Putra Purba
Bidan Dewi sedang melakukan anamnesis ke pasien
Bidan Dewi sedang melakukan anamnesis ke pasien | Photo: Mahardika Putra Purba

Fasilitas kesehatan umum terdekat ialah Puskesmas Kecamatan di Menukung. Lamanya perjalanan memakan waktu dua jam, ditambah lagi kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Keadaan semakin parah jika hujan turun dengan lebat, jalan tidak bisa diakses menggunakan mobil maupun motor, sehingga pilihannya hanya menggunakan transportasi air menggunakan sampan/perahu. Jika menggunakan ojek motor dari desa untuk mencapai ke Puskesmas, pengguna bisa membayar hingga 150.000 rupiah (PP).

Kondisi jalan yang sangat sulit untuk dilalui dan biaya transportasi yang mahal menjadi faktor yang menghambat masyarakat mengakses layanan kesehatan di Puskesmas. Ibu-ibu hamil dihadapkan dengan risiko tinggi tidak bisa mencapai fasilitas kesehatan pada saat akan melahirkan. Dengan situasi yang berat tersebut, kesempatan Ibu hamil untuk mendapatkan pemeriksaan rutin atas kehamilannya demi prediksi waktu lahir yang lebih akurat pun menjadi semakin sulit. Untuk itulah, ASRI menempatkan bidan di desa agar bisa membantu masyarakat langsung di desa. Dan ketika tim medis ASRI melakukan pengobatan keliling di desa, tim bertemu dengan beberapa pasien yang baru pertama kali memeriksakan kesehatannya ke dokter.

“Sebagai seorang dokter saya merasa empati melihat kondisi disana. Sehingga saya sangat berantusias mengobati mereka karena mereka sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk konsultasi dengan dokter,” ungkap Dr. Marisa setelah sampai di Klinik ASRI.

Tak hanya Dr. Marisa, Siska pun mengungkapkan hal yang sama bahwa momen yang berkesan dan menyenangkan selama 8 hari adalah perjalanan dan suasana kesana.

“Yang berkesan itu saat kami pergi-pulang menggunakan perahu. Lalu mandi dan cuci di sungai. Memasak seadanya. Terus beberapa hari lamanya tanpa handphone itu rasanya membuat kami (tim BBBR dan ASRI) semakin akrab. Tidak seperti sekarang banyak yang sibuk dengan gadget masing – masing saat berkumpul,” ucap Siska, apoteker ASRI.

Dr. Marisa menjelaskan bahwa tingkat kesulitan pengobatan keliling di TN BBBR lebih tinggi dibandingkan desa yang lebih dekat dengan Klinik ASRI di Sukadana seperti di Desa Matan atau Pangkalan Jihing, mengingat kondisi lapangan, tipikal masyarakat, tipikal penyakit dan perjalanannya yang super sulit dan menantang terutama jika cuaca sedang buruk. Sehingga untuk tim selanjutnya harus lebih mempersiapakan mental dan tubuh yang sehat.

“Apakah Dr. Marisa mau dan siap kembali kesana untuk pengobatan keliling?”

“PASTI.”

Selain mengadakan pengobatan keliling, ASRI juga akan menempatkan bidan di desa. Tim ASRI telah banyak berdiskusi dengan perwakilan masyarakat sebelum akhirnya menyepakati penempatan bidan. Untuk diketahui, dikarenakan besarnya biaya untuk mendatangkan tim medis dan obat-obatan ke desa -desa terpencil ini, maka pengobatan yang disediakan oleh ASRI tidak gratis. Masyarakat yang mengakses layanan kesehatan tetap membayar untuk memastikan keberlanjutan program ini. Kedepannya Tim ASRI akan menggali kemungkinan untuk menerapkan pembayaran non tunai di BBBR seperti yang telah diterapkan di Sukadana.

ASRI Mengajak Petani di sekitar kawasan TN BBBR untuk beralih ke Pertanian Berkelanjutan

Suasana di Dusun Nusa Poring
Suasana di Dusun Nusa Poring | Photo:Mahardika Putra Purba

Selain pengobatan keliling, tim konservasi ASRI pun memanfaatkan kunjungan ini untuk sosialisasi pertanian berkelanjutan ke masyarakat – masyarakat di dua desa, yaitu Desa Nusa Poring dan Desa Mawang Mentatai.

Dika, Manajer Konservasi ASRI, mengungkapkan bahwa sekilas disana masih banyak praktik pertanian metode tradisonal, tebang bakar. Hal ini terlihat sewaktu perjalanan menuju lokasi pengobatan keliling terdapat banyak hutan hangus terbakar. ASRI pun memperoleh beberapa keterangan dari pihak Taman Nasional tentang aktivitas penebangan pohon di sekitar TN BBBR. Untuk itu, ASRI akan bekerja dengan masyarakat agar petani dapat beralih ke pertanian berkelanjutan.

Selama empat hari tim konservasi melakukan pencarian fasilitator pertanian berkelanjutan atau organic farming yang berasal dari desa setempat. Fasilitator pertanian organik selanjutnya akan dilatih agar mereka dapat mengakomodasi dan sebagai tempat bertanya serta berlatih masyarakat dan petani di sekitar TN BBBR.

Pertanian yang digunakan masih menggunakan metode lama, yaitu tebang-bakar lahan
Pertanian yang digunakan masih menggunakan metode lama, yaitu tebang-bakar lahan | Photo: Mahardika Putra Purba

Tulisan oleh: Oka Nurlaila (Staff Marketing Komunikasi ASRI)

Admin ASRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *