Oleh Oka Nurlaila
14 July 2023
ASRI Memperluas Dampak Positif untuk Kesehatan dan Lingkungan di Dua Desa di Kabupaten Sintang

ASRI 'lahir' dari keresahan dan kepedulian Bu Kinari, pendiri ASRI, saat melakukan penelitian di stasiun riset Cabang Panti tahun 1993. Di sana, ia merasa sedih karena menyaksikan seorang pria terpaksa menebang 60 pohon demi biaya kelahiran operasi caesar ibunya. Singkat cerita, setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran di Amerika, Bu Kinari kembali ke Sukadana, Kalimantan Barat, dengan tujuan berkontribusi dalam menjaga hutan Kalimantan. Kemudian tim ASRI merancang program-programnya berdasarkan ide dan pemikiran masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Bu Kinari menyadari bahwa mereka yang tinggal di wilayah tersebut lebih memahami solusi-solusi yang dapat membantu mencapai masyarakat yang sehat, sejahtera, dan alam lestari. Aspirasi masyarakat ini dikumpulkan melalui metode diskusi Radical Listening yang menjadi salah satu praktik ASRI sejak awal berdiri.

 

Setelah enam belas tahun berkiprah dalam mendukung pelestarian hutan dan kesehatan masyarakat di Sukadana, ASRI kini berusaha memperluas dampak programnya ke wilayah-wilayah lain di Indonesia demi mewujudkan visi ASRI. Dengan penuh semangat, ASRI mengawali petualangan ini dengan mengunjungi Desa Rantau Malam dan Desa Jelundung yang berlokasi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada bulan Juni 2023. Pilihan jatuh pada dua desa tersebut tidaklah kebetulan, melainkan didasarkan pada peran vital mereka dalam menjaga kelestarian hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

 

Radical Listening bersama masyarakat penjaga hutan di Desa Jelundung, Sintang, Kalbar

 

“Jika masyarakat dunia ingin berterima kasih karena Bapak/ Ibu menjaga hutan, apa bentuk terima kasih yang Anda butuhkan?”

 

Tim ASRI mengajukan pertanyaan ini kepada masyarakat Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam saat melakukan radical listening. Diskusi ini dihadiri oleh 30 perwakilan masyarakat, termasuk Kepala Desa, Kepala Dusun, Kepala Adat, Perwakilan Pemimpin Agama, Pemuda Setempat, dan perwakilan Kelompok Binaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, serta banyak lagi.

 

Dari hasil diskusi radical listening tersebut, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat di Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam cukup serupa. Mayoritas masyarakat di kedua desa membutuhkan dukungan dalam bidang kesehatan, seperti bantuan nutrisi, program kesehatan ibu dan anak, serta bantuan pembangunan toilet di rumah. Masyarakat juga menyampaikan bahwa biaya pendidikan dan biaya kesehatan yang diperlukan untuk perjalanan dari desa mereka ke Kecamatan Serawai cukup besar, yakni sekitar 300 ribu rupiah pulang-pergi. Selain itu, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, sekitar dua jam menggunakan speedboat atau empat jam menggunakan kapal klotok. Berdasarkan masalah ini, masyarakat Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam mengungkapkan bahwa dukungan dalam bentuk pemberdayaan melalui mata pencaharian alternatif berkelanjutan, seperti pelatihan pembuatan kue, budidaya madu kelulut, pertanian, dan perkebunan, akan sangat membantu meningkatkan penghasilan mereka. Kedua desa juga mengungkapkan keprihatinan mengenai pendidikan, seperti yang disampaikan oleh Pak Mingguk selaku Kepala Sekolah di Desa Jelundung. Beliau khawatir terhadap ‘warisan’ alam yang sekarang mereka jaga akan seperti apa saat di tangan generasi muda nantinya di masa depan, jika mereka tidak diajarkan tentang lingkungan sedari dini. "Saya berharap ASRI dapat menyelenggarakan program pendidikan untuk anak-anak di sini karena saya khawatir apakah generasi muda ini akan tetap menjaga hutan kita seperti yang kami, orang-orang tuanya, lakukan saat ini," kata Pak Mingguk kepada tim ASRI dan TNBBBR yang sedang berkunjung ke rumahnya untuk melihat usaha budidaya ikan miliknya. Kedua desa tersebut juga menyampaikan masukan lainnya, seperti dukungan pembinaan dari TNBBBR di Desa Jelundung dan bantuan infrastruktur jalan di Desa Rantau Malam.

 

Pak Mingguk, usaha budidaya ikan di desa jelundung, sintang, kalbar

 

Semua ide dari masyarakat dikumpulkan oleh ASRI bersama hasil survei Rumah Tangga yang dilakukan, untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang kebutuhan dan harapan masyarakat. Dengan pendekatan holistik ini, ASRI dapat merancang program yang responsif dan memberikan dampak positif bagi Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam. Setelah melakukan diskusi dan radical listening kedua dalam rangka cross-check pada tanggal 6-7 Juli 2023, ASRI, bersama dengan mitra utamanya, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan Dinas Kesehatan setempat, sepakat untuk melakukan kerjasama dengan Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam selama setahun.

 

Radical Listening kedua oleh ASRI di Desa Rantau Malam, Sintang, Kalbar

 

"Program atau kegiatan selama satu tahun yang akan dilakukan oleh ASRI, TNBBBR, dan masyarakat Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam mencakup pengobatan klinik keliling setiap dua atau tiga bulan, pembagian penyaring air minum, inventaris obat-obatan tradisional, Pendidikan Kesehatan Lingkungan, dan pembinaan pertanian berkelanjutan," kata Juanisa Andiani, Direktur Program ASRI, saat memimpin diskusi radical listening kedua di Desa Jelundung dan Desa Rantau Malam.

Semua keberhasilan dan pencapaian yang telah ASRI raih di Sukadana maupun di Sintang tak terlepas dari dukungan pemerintah, Balai Taman Nasional Gunung Palung dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, serta masyarakat setempat dan masyarakat dunia. Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang terus diberikan kepada ASRI untuk memberikan manfaat dan membantu mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, dan menjaga alam lestari.