Oleh Niken Farah Ayuhannas
31 August 2022
Uang Bisa Dicari, Tapi Nekat Magang di ASRI Tidak Akan Terulang Kedua Kali

Ape hal magang jauh-jauh? Emangnye di Pontianak ndak ade?”

Loohhh bidang minat kau kan Mikrobiologi, kok magangnye malah di Konservasi?”

Kau yakin, mau magang disana? Itu ndak sesuai dengan bidang minat TA kau loh, ken.”

 

Begitulah kira-kira ucapan yang kerap aku dengar di masa-masa penghujung perkuliahan semester 6. Awalnya sempat ragu, tapi karena berpegang teguh dengan kalimat “Hidup Seperti Larry” akhirnya sampai juga diri ini menginjakkan kaki di tanah Kayong Utara, hehe.

 

Hi, namaku Niken. Aku seorang mahasiswi semester 7 dari prodi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura. Melamar magang di Yayasan ASRI merupakan suatu kebanggan dan pengalaman seumur hidup yang takkan pernah aku lupakan. Menurutku ASRI adalah tempat persinggahan terbaik untuk menimba ilmu dan menambah pengalaman yang bahkan belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika suatu hari nanti ASRI akan menjadi rumahku hehehe. So, let me tell you about my journey at Yayasan ASRI.

 

Ini semua berawal dari aku yang megunjungi Instagram account dan melihat beberapa postingan-postingan dari Yayasan ASRI yang terlihat eye catching. Semakin hari rasanya semakin ingin tahu lebih banyak hal tentang yayasan ASRI beserta programnya. Melalui senior, aku menggali dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai ASRI dan mulai menyusun strategi serta memantapkan hati untuk berlabuh disana. Layaknya berjalan diatas aspal, kadang kala tidak selalu berjalan mulus. Begitu juga hal yang kurasakan saat menunggu balasan email dari pihak ASRI. Hampir setiap hari aku uring-uringan karena belum mendapat balasan email. Sampai akhirnya muncul sebuah notifikasi yang menyatakan bahwa “Yayasan ASRI tidak berkeberatan untuk menerima mahasiswa/i diatas untuk melaksanakan Kerja Praktik”, hal itu sontak membuatku sangat berapi-api karena tidak sabar untuk cepat-cepat sampai disana.

 

Beberapa hari setelah menerima email, aku berangkat menggunakan kapal feri dan mengambang semalaman di lautan lepas, lalu aku kembali melanjutkan perjalanan melalui darat dengan kondisi jalan yang cukup bikin badan pegal linu. Tetapi semua rasa lelah tersebut terbayarkan saat aku mendarat di ASRI dan disambut dengan sangat hangat oleh staf - staf ASRI yang aku jumpai. Hari-hari terus berlanjut, sedikit demi sedikit aku mulai mengetahui program apa saja yang ada di Yayasan ASRI. Mulai dari mengikuti program sosialisasi Goat For Widows, kunjungan Garden to Forest yang dimana merupakan salah satu program yang menurutku sangat membantu dalam penghijauan. Lalu aku juga sempat mengikuti penyuluhan kesehatan dan lingkungan, serta mengikuti kunjungan mitra Chainsaw Buyback yang dimana sangat membantu perekonomian ex logger.

 

Mahasiswa Biologi Untan Magang di ASRI

 

Mahasiswa Biologi Untan Magang di ASRI

 

Memasuki minggu kedua, aku dan teman-teman berangkat ke Camp Persemaian Bibit Permanen di Laman Satong dan tinggal disana selama hampir 3 minggu. Pertama kali menginjakkan kaki disana, aku sempat terdiam dan tak bergeming. Aku sangat shock dengan kenyataan bahwa disana tidak ada sinyal, perasaan-perasaan gelisah pun terus muncul di fikiranku, “Ahh gimane aku bise hidup di tempat ndak ade sinyal nih? Aku bise survive dak ye?” begitu terus ucapku dalam hati. Tetapi setelah menjalani hari-hari disana, aku merasa tidak terlalu buruk, karena aku mendapat ayah angkat dan saudara laki-laki yang selalu baik kepadaku dan juga teman-temanku (Peace Pak Jul dan Alam hehehe).

 

Hidup disana mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain. Disana aku belajar mengenal bibit pohon dan ikut mengangkut bibit untuk ditanam di lahan reboisasi nantinya. Selain itu aku juga berkesempatan mengikuti field trip bersama Sahabat Hutan dan berkunjung ke Riam Bekinjil. Tak hanya sampai disitu, aku juga berkesempatan menjadi MC di pelatihan pertanian organik dan turut serta dalam praktek pembuatan pupuk organik bersama petani-petani disana.

 

Mahasiswa Magang belajar GIS di ASRI

 

Minggu kedua dan ketiga di Laman Satong aku sudah mulai fokus untuk pengambilan data Analisis Vegetasi di Hutan Reboisasi serta ikut memasang dan melepas kamera trap. Setelah hampir 3 minggu disana, aku kembali lagi ke ASRI di Sukadana dan mulai fokus untuk menyusun laporan. Lagi-lagi aku mendapatkan ilmu yang berharga selama di ASRI. Aku berkesempatan mengikuti pelatihan GIS dan mencoba untuk mengoperasikan ArcGIS serta mencoba membuat peta sederhana. Aku merasa menjadi mahasiswi yang beruntung karena bisa bergabung bersama ASRI walaupun hanya sebulan. Terima kasih ASRI sudah mengajarkan banyak hal-hal baru, mempertemukan momen-momen yang menarik bersama orang-orang yang baik. Terima kasih sudah mau menerima aku dengan hangat dan lapang dada. Semoga selama satu bulan ini, aku memberikan kesan-kesan yang baik untuk seluruh orang-orang yang aku temui di ASRI. Semoga Yayasan ASRI bisa terus menyelamatkan hutan-hutan di Kalimantan Barat untuk sekarang dan selamanya.

 

Artikel ditulis oleh Niken Farah Ayuhannas yang merupakan mahasiswa magang dari program studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura